|
Jumat, 31 Oktober 2008 23:28 |
|
MENYIKAPI TEGURAN ATASAN (Theo Takkang) Ilustrasi : Nova : Aduh aku tadi ditegur atasanku lho ? Dina : Memangnya kenapa koq anda sampai ditegur atasan ? Nova : Entahlah padahal kayaknya aku tidak pernah usil sama orang Dina : Memangnya anda mencurigai ada orang yang mengadu pada atasan anda ?  Gambaran percakapan tersebut diatas sering terdengar dilingkungan satu unit kerja pada saat seorang karyawan ditegur oleh atasannya, untuk saat ini sebenarnya teguran dari atasan dapat terjadi karena beberapa sebab, kami tidak membahas masalah penyebab teguran dari atasan tapi bagaimana kita menyikapi teguran dari atasan kita. Teguran dari atasan merupakan suatu hal yang sering terjadi disatu lingkungan kerja, permasalahannya terkadang seseorang pada saat ditegur oleh atasannya lebih banyak berprasangka pada orang lain sehingga tindakan yang bersangkutan, ditegur atasannya. Teguran dapat dikatakan sebagai kritik dari atasan terhadap bawahannya karena kekurang puasan atasan terhadap hasil kerja bawahan, kami mencoba membahas dari segi aspek psikologis seseorang dengan mengutip beberapa tulisan yang ada di dunia maya. Secara psikologis apabila seseorang ditegur atau dikritisi oleh orang lain akan menimbulkan sikap : 1. SIKAP APRIORI TERHADAP KRITIK Masalah yang menarik berkaitan dengan sikap adalah bahwa sikap mempengaruhi bagaimana seseorang berhubungan, memandang, dan menunjukkan tingkah laku tertentu terhadap sesuatu. Ada yang menyebut sikap sebagai suatu pre-disposisi yang relatif stabil dan bertahan untuk berprilaku atau bereaksi dengan satu cara tertentu terhadap orang, obyek, institusi atau permasalahan. Adapun yang memandang sikap sebagai kecenderungan untuk bereaksi positif(menerima) atau negatif(menolak) suatu obyek,berdasarkan penilaian apakah obyek tersebut berharga bagi dirinya atau tidak. Menurut yang lain dalam sikap positif terdapat kecenderungan tindakan mendekati,menyenangi dan mengharapkan obyek tertentu.Sedangkan sikap negatif ditandai dengan kecenderungan menjauhi dan membenci. Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa sikap negatif berawal dari penilaian kita terhadap kritik.Kita terlanjur memandang kritik sebagai sebuah stimulus atau rangsangan yang dapat mengancam eksistensi diri.Kritik seringkali dinilai sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat,menyebalkan serta menyebabkan telinga panas dan hatisesak. Pre-disposisi negatif terhadap kritik dapat ditunjukkan dengan tindakan yang mencerminkan upaya pembelaan diri secara kurang proposional, semisal mencari kambing hitam, kemarahan,atau memusuhi(perubahan sikap) terhadap orang yang memberi kritik. 2. ISYARAT BURUK Kondisi ini tentu saja tidak mengenakkan bagi kedua belah pihak.Selain dapat merusak suasana'nyaman', penunjukan sikap negatif terhadap kritik membuat pola interaksi dan komunikasi menjadi kurang sehat. Kita cenderung takut dan enggan berinteraksi dengan orang yang suka memberikan kritik.Padahal ada beberapa kerugian yang akan kita alami manakala sikap apriori terhadap kritik selalu dipelihara hingga berkembang menjadi sebuah budaya. Satu, kita cenderung menutup mata terhadap kelemahan dan kekurangan kita. Bersikap negatif berarti kita menganggap diri selalu benar. Kedua, dengan bersikap negatif kita telah melewatkan kesempatan emas untuk melakukan proses intropeksi diri. Hadirnya kritik selalu dihadapkan dengan upaya pembelaan dan pembenaran diri. Ini tentu saja menyulitkan kita untuk melakukan 'penelanjangan' diri. Ketiga, kita akan membebani hati dengan prasangka buruk pada orang lain. Kita menganggap orang lain telah begitu tega membongkar dan menunjukkan kelemahan diri yang selama ini sadar atau tidak telah kita simpan rapat-rapat. Keempat, bersikap negatif terhadap kritik merupakan lahan subur bagi berkembangnya penyakit SOMBONG, TAKABUR, dan BANGGA DIRI sekaligus sebagai indikasi bahwa kita belum 'MENGENALI DIRI SENDIRI'. 1. SIKAP DAPAT BERUBAH Teori psikologi menyebutkan bahwa di dalam sikap terdapat komponen kognitif, afektif,dan konatif. Kognitif berhubungan dengan keyakinan,ide dan konsep. Afektif menyangkut kehidupan emosional individu dihubungkan dengan obyek psikologisnya,sedangkan konatif merupakan kecenderungan individu untuk bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain,sikap yang ditunjukkan seseorang tergantung pada jalan pikiran dan perasaan individu terhadap situasi tertentu.Jalinan pikiran dan perasaan tersebut dimunculkan dalam bentuk tingkah laku positif 'menerima' atau negatif 'menolak' Ketika menerima lontaran kritik, jalan pikiran seseorang menangkap sebagai sinyal bahaya. Otomatis, perasaannya menjadi kalut dan panik. Wajarlah bila tingkah laku yang muncul adalah upaya pembelaan diri.Ada yang berpendapat bahwa,sikap bukanlah bawaan sejak lahir tapi dapat dibentuk melalui berbagai cara. Sehingga,meski realita menunjukkan bahwa kebanyakan kita terbiasa bereaksi negatif ketika menerima kritik, bukan berarti sikap apriori adalah sikap yang 'laten' dan dari 'sononya'. Adapun yang berpendapat bahwa pertambahan usia, perkembangan intelegensi dan pengalaman hidup seseorang dapat mempengaruhi pembentukan sikap terhadap banyak hal, termasuk terhadap kritik. LESTER D.CROW menyoroti masalah hubungan intern yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri individu sebagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap.POSITIF THINGKING Apa yang harus kita lakukan untuk mengubah sikap negatif????. Yang harus kita perhatikan adalah membenahi faktor internal, sebelum mengharapkan adanya perubahan faktor eksternal. Dengan kata lain,kita harus siap melakukan reformasi terhadap struktur, kognitif, afektif dan konatif sebagai komponen pembentukan sikap. Satu, menanamkan pemahaman konsep dalam diri bahwa kritik bukan ancaman, tapi justru sebuah stimulus atau rangsangan untuk melakukan proses perbaikan diri. Kritik pada dasarnya adalah nasehat. Nasehat itu pada hakikatnya adalah ungkapan'kasih sayang' seseorang pada diri kita dengan maksud memberikan upaya perbaikan. Sehingga,kita bisa menganggap kehadiran kritik sebagai sarana yang dapat membantu akselerasi pembentukan kepribadian yang baik.QS 51:55 Kedua, menumbuhkan suasana psikologis yang sehat dalam menerima kritik. Hadapi kritik dengan lapang dada,penuh kemakluman,dan senyum keikhlasan. Sikap seperti itu membuat kita lebih'nyaman'dan dapat mengendalikan upaya pembelaan atau pertahanan diri yang tidak proposional.Bahkan akan membuat kita 'siap' menghadapi sebuah kecaman pedas dan 'asbun' sekalipun. Ketiga, menunjukkan sikap tawadhu (rendah hati) dalam menghadapi orang yang melontarkan kritik. Ini dapat dilakukan dengan cara mendengarkan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraannya karena tergesa ingin memakai hak jawab dan tidak menunjukkan sikap meremehkan atau tidak peduli. Keempat, mem-follow up-i kritik dengan melakukan intropeksi. Melalui intropeksi yang distimulusi oleh kritik membuat kita menjadikan diri sebagai telaah, bukan orang lain. Pada Percakapan Nova dan Dina, maka Nova akan mengkaji sikap dan prilaku apa yang telah melahirkan kritik dari Atasannya. Bukan memikirkan mengapa Atasannya menegur seperti itu. Berpikir yang terpusat pada diri akan melahirkan sikap objektif dan akan menutup peluang munculnya rasa tidak suka bahkan keinginan membalas 'dendam'pada lain kesempatan. Dari uraian tersebut diatas sebenarnya apabila kita mau melakukan intropeksi diri apabila ditegur atasan, maka tidak akan menimbulkan purbasangka yang tidak baik dari orang lain, ayo kita mulai dengan intropeksi diri dan berpikir positif apabila ditegur atasan kita.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 02 November 2008 18:43 )
|
|
Jumat, 24 Oktober 2008 12:41 |
Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tabloid NOVA No. 803/XIII
Masa pensiun bisa jadi merupakan masa yang menggembirakan bagi sebagian orang, namun bisa juga menjadi masa yang penuh kegelisahan bagi sebagian lainnya. Mungkin Save banyak dari Anda yang bertanya, apa sih yang dimaksud dengan masa pensiun? Gampang saja, kok, masa pensiun adalah masa dimana kita bisa berhenti bekerja dan tentu saja berhenti mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang biasa kita tekuni.
Nah, apabila seseorang telah mempunyai cukup uang untuk membiayai kebutuhan-kebutuhannya di masa pensiun, tentu ini akan sangat menggembirakan. Bayangkan, kebutuhan bisa tetap tercukupi tanpa harus bekerja lagi. Waktu dan tenaga yang biasanya dihabiskan untuk bekerja dapat digunakan untuk beristirahat atau melakukan hal-hal yang menjadikan kegemaran kita. Tetapi sebaliknya, bila pada masa pensiun, seseorang tidak atau belum mempunyai cukup uang untuk membiayai hidupnya, maka yang terjadi bukannya bersantai, melainkan gelisah mencari cara supaya bisa tetap hidup. Betul, kan?
Banyak orang, terutama yang bekerja sebagai pegawai, merasa optimis bahwa dirinya akan bisa menikmati masa pensiun secara menyenangkan.
"Perusahaan saya, kan punya dana pensiun untuk saya nanti, buat apa saya mesti pusing-pusing mikirin persiapan uang pensiun...," begitu komentar sebagian dari mereka.
Benar, setiap orang tentu ingin mengalami masa pensiun yang menyenangkan dan bukannya menggelisahkan. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang menyediakan dana pensiun untuk karyawan yang telah bekerja keras selama ini, sehingga mereka bisa pensiun dengan tenang.
Tapi, pernahkah Anda menghitung berapa jumlah Dana Pensiun yang akan Anda dapatkan kelak dari perusahaan? Bila ya, pernahkah Anda menghitung berapa sebenarnya kebutuhan hidup Anda setelah pensiun kelak? Dan pernahkah Anda membandingkan keduanya, sehingga Anda mengetahui apakah uang pensiun Anda cukup atau tidak untuk membiayai hidup Anda?
Yang sering terjadi, jarang orang mencoba mencari tahu apakah uang pensiunnya cukup untuk membiayai kehidupan masa pensiunnya kelak. Mereka hanya menggantungkan uang pensiun dari perusahaan sebagai sumber biaya hidup di masa pensiun. Padahal, hanya dia sendiri yang tahu persis berapa kebutuhan hidupnya setelah pensiun, bukan perusahaan.
Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui apakah uang pensiun Anda cukup atau tidak sebagai gantungan hidup Anda kelak. Bila cukup, mungkin tidak jadi masalah. Tapi bila tidak, maka Anda, mau tak mau, harus menambahnya sendiri, sehingga kelak terkumpul cukup dana untuk membiayai kehidupan pensiun Anda.
DUA CARA MENAMBAH DANA PENSIUN
Sebelumnya, kita sudah menyinggung perlunya menambahkan sendiri dana pensiun bila ternyata nantinya, setelah dihitung, Uang Pensiun yang Anda terima dari perusahaan tidak cukup untuk membiayai kehidupan pensiun Anda. Lalu, bagaimana cara menambahkan sendiri dana pensiun Anda? Secara garis besar, ada 2 cara yang bisa Anda lakukan:
1. Membuka usaha sampingan 2. Menabung secara rutin
Kita akan membahas untung-rugi setiap dari alternatif cara tersebut satu-persatu:
1. Membuka Usaha Sampingan Membuka usaha sampingan, intinya adalah menambah penghasilan di luar pekerjaan, sehingga hasil dari usaha sampingan ini bisa digunakan sebagai tambahan dana untuk membiayai kehidupan pensiun. Membuka usaha sampingan bisa sangat menguntungkan, karena biasanya dengan membuka usaha, bisa didapat hasil yang besar dalam tempo yang lebih cepat.
Namun perlu diingat, keberhasilan tersebut bisa didapat hanya dengan pengelolaan yang baik dan konsentrasi penuh. Hal yang kedua inilah yang sulit didapat, mengingat Anda masih terikat pada pekerjaan. Seringkali seseorang terlalu fokus pada pekerjaan sampingannya, sehingga pekerjaan utamanya malah jadi terbengkalai. Ini tentunya malah bisa menimbulkan kondite buruk yang dapat menghambat karier Anda dan juga menghambat penghasilan dari pekerjaan utama.
Membuka usaha sampingan juga tidak lepas dari risiko, terutama risiko finansial. Tidak tertutup kemungkinan, usaha sampingan juga bisa merugi. Kalau itu yang terjadi, bukannya tambahan dana untuk biaya pensiun yang didapat, tapi bisa-bisa dana untuk biaya hidup sekarang pun habis untuk nombok. Tapi, bukan berarti Anda tidak boleh membuka usaha sampingan untuk mempersiapkan pensiun Anda, lho. Anda tetap bisa membuka usaha sampingan untuk mempersiapkan pensiun, asal siap dengan segala konsekuensi yang akan Anda hadapi.
2. Menabung Secara Rutin Alternatif kedua ini relatif lebih mudah daripada yang pertama. Anda bisa menyisihkan sebagian uang dari penghasilan rutin untuk dimasukkan ke dalam tabungan. Nantinya, tabungan tersebut akan berkembang terus hingga mencapai jumlah yang cukup besar.
Keuntungan dari menabung ini adalah Anda tidak perlu mengorbankan waktu dan pikiran, sehingga bisa tetap berkonsentrasi ke pekerjaan utama Anda. Dengan tetap berkonsentrasi pada pekerjaan utama, kinerja Anda pun bisa semakin baik, dan otomatis penghasilan juga bisa membaik. Jadi, Anda mendapatkan keuntungan ganda: karier dan penghasilan yang semakin baik, serta penghasilan dari terus berkembangnya tabungan. Namun, bukan berarti menabung tidak ada kelemahannya. Kelemahannya, dengan menabung, berarti jangka waktu Anda mengumpulkan dana tersebut bisa lebih panjang daripada membuka usaha sampingan. Tak perlu khawatir, kelemahan ini bisa diatasi dengan mulai menabung sejak dari sekarang.
KEBUTUHAN HIDUP DI MASA PENSIUN
Mungkin Anda pernah berkata, "Kalau saya pensiun nanti, biaya hidup saya pasti akan turun. Saya, kan nggak neko-neko." Pendapat tersebut ada benarnya, namun tidak seluruhnya benar. Neko-neko atau tidak, pada masa pensiun, akan ada perubahan jumlah biaya untuk setiap pos pengeluaran Anda. Dan karena Anda sudah tidak bekerja lagi, maka besar kemungkinan biaya transportasi serta busana dan asesoris akan menurun jumlahnya.
Sebaliknya, karena usia Anda saat itu sudah beranjak tua, biaya kesehatan biasanya akan meningkat pesat. Biaya untuk hobi dan hiburan juga meningkat, seiring makin banyaknya waktu luang yang Anda miliki. Sedangkan pos belanja pribadi, telepon, air, dan listrik biasanya cenderung tetap. Dari perkiraan naik dan turunnya biaya setiap pos pengeluaran ini, Anda bisa menghitung sendiri berapa kira-kira kebutuhan hidup Anda nanti setelah pensiun.
CARA MUDAH,MENABUNG SECARA RUTIN
Menabung secara rutin bisa menjadi alternatif mendapatkan tambahan uang pensiun secara mudah. Cukup dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan setiap bulan, maka di kemudian hari, Anda bisa memetik hasilnya. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa menabung merupakan alternatif yang memakan waktu lebih lama daripada membuka usaha. Oleh karena itu, kita bisa menyiasatinya dengan cara menabung sedini mungkin, yaitu mulai dari sekarang. Apabila Anda menabung sendiri, maka Anda harus bisa memperkirakan jangka waktu tabungan dan besarnya tingkat hasil yang didapat (return), agar bisa mendapatkan hasil tabungan yang bisa mencukupi kebutuhan dana pensiun Anda kelak.
Seringkali, orang menganggap remeh menabung secara rutin, apalagi dalam nominal kecil. Seratus ribu atau duaratus ribu per bulan, misalnya. Tapi, percaya atau tidak, pepatah lama "Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit" itu memang terbukti. Cukup dengan, misalnya uang Rp 500 ribu per bulan, Anda bisa mendapatkan sejumlah uang yang cukup besar setelah jangka waktu tertentu. Berikut ini ada ilustrasi jumlah yang akan Anda dapatkan apabila Anda menabung sebesar Rp 500 ribu per bulan selama 15 tahun, dengan asumsi tingkat suku bunga atau hasil tertentu.
TABEL:Jangka waktu 15 tahun Setoran tabungan:Rp 100 ribu/bulan ASUMSI TINGKAT HASIL (return) per tahun
1. 10 % =Rp. 41.792.427 2. 15 % =Rp. 67.686.309 3. 20 % =Rp. 113.429.490
Dengan asumsi bunga berbunga bulanan
Dari ilustrasi di atas, Anda bisa melihat bahwa bila Anda menabung rutin Rp 500 ribu tiap bulan ke dalam, katakanlah, produk investasi di bank dengan suku bunga 10 persen per tahun, maka setelah 15 tahun, uang Anda akan menjadi sekitar Rp 200 juta lebih. Bila Anda menabung dengan tingkat hasil 15 persen, uangnya menjadi Rp 338 juta lebih, dan bila tingkat hasilnya 20 persen, jumlah uangnya akan menjadi hampir Rp 567 juta lebih. Padahal, total setoran Anda selama 15 tahun tersebut hanyalah sebesar Rp. 500.000 X 12 bulan x 15 tahun = Rp 90 juta. Luar biasa, bukan? Hanya dengan menabung Rp 90 juta, Anda bisa mendapatkan hasil investasi yang banyak sekali.
Jadi, tunggu apalagi? Menabunglah dari sekarang untuk masa pensiun Anda.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 24 Oktober 2008 12:45 )
|
|
|